WASTAFEL OTOMATIS oleh Bambang Supriyanto


WASTAFEL OTOMATIS BERBASIS MIKROKONTROLER DENGAN MENGGUNAKAN SENSOR FOTODIODA

Mencuci  tangan  merupakan  hal  sederhana,  namun  memiliki  peranan  yang  sangat penting  dalam  kehidupan  sehari-hari.  Pemerintah  melalui  Kementerian  Kesehatan  juga  telah berkomitmen  untuk   melaksanakan  Program  Sanitasi  Total  Berbasis  Masyarakat  (STBM), dimana   salah   satu   bentuk   komitmen   itu   adalah   menyelenggarakan   kegiatan   sosialisasi implementasi cuci tangan pakai sabun dalam keseharian (Menkes, 2008). Idealnya mencuci tangan dilakukan dengan menggunakan air bersih dan mengalir, serta sabun  sebagai  bahan  yang  dapat  membantu  pelepasan  kotoran  dan  kuman  yang  menempel dipermukaan luar  kulit  tangan  dan  kuku  secara  kimiawi  (Menkes,  2008).  Sistem  Wastafel dirancang  untuk  memenuhi  kebutuhan  tersebut.  Sistem  wastafel  terdiri  dari  sebuah  kran  air, sabun  dan  pengering  tangan.  Sistem  wastafel  mulai  banyak  digunakan  di  rumah,  sekolah, kampus, kantor, industri, dan tempat-tempat lainnya. Kran   yang   banyak   digunakan   pada   sistem   wastafel   adalah   kran   manual.   Untuk membuka  atau  menutup  aliran  air  dengan  kran,  pengguna  harus  bersentuhan  langsung  dengan kran.  Oleh  karena  tangan  yang  hendak  dicuci  dalam  keadaan  kotor,  kuman  (bakteri,  jamur, virus)  atau  zat-zat  yang  dapat  membahayakan  kesehatan  akan  menempel  pada  kran  ketika pengguna  menyentuhnya.  Setelah  dicuci,  kemudian  tangan  dikeringkan  dengan  kain  lap atau kertas tissue yang  disediakan  didekat  wastafel.  Penggunaan  kain  lap  yang  digunakan  banyak orang justru berpotensi mengandung banyak kuman. Kertas tissue sebagai alat pengering dinilai lebih  higienis,  namun  penggunaannya  sulit  dikontrol  sehingga  lebih  cepat  habis  dan  tak tergantikan dengan segera.
Peggunaan beberapa bagian pada wastafel sudah ada yang berbentuk otomatis. Hanya saja belum terpadu dalam penyediaannya dan harganya yang kurang ekonomis, sehingga yang dapat menggunakan hanya masyarakat golongan tertentu saja.
Perancangan sistem otomatisasi pada sebuah sistem wastafel dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa sensor, seperti sensor PIR dan sensor fotodioda. Sensor PIR mampu mendeteksi suhu tubuh manusia sehingga saat tangan diletakkan dibawah kran, maka kran akan aktif secara otomatis. Namun sensor PIR memilki harga yang cukup mahal dan tentu akan menambah biaya produksi. Sensor fotodioda mampu menggantikan peran sensor PIR dalam mendeteksi tangan manusia. Fotodioda adalah sensor yang dapat mengonversi cahaya menjadi arus listrik (jika dioperasikan dalam modus fotokonduktif) atau menjadi tegangan listrik (jika dioperasikan dalam modus fotovoltaik) (Fraden, 2004). Perancangan sensor fotodioda diintegrasikan dengan sebuah laser dioda. Fotodioda berfungsi sebagai pendeteksi cahaya (receiver) dan laser dioda berfungsi sebagai sumber cahaya (transmitter).



Gambar 1 Bentuk alat sistem wastafel otomatis secara keseluruhan
Melalui tulisan sederhana ini, saya menghimbau pada pihak kampus untuk menyediakan wastafel. Demi kesehatan kami, siapkan kami wastafel untuk mencuci tangan kami yang sudah pasti kotor setelah melakukan aktifitas. Bukankah MENCEGAH itu lebih baik daripada MENGOBATI…? (Bambang Supriyanto)

Komentar

  1. numpang promote ya min ^^
    Bosan tidak tahu mau mengerjakan apa pada saat santai, ayo segera uji keberuntungan kalian
    hanya di D*E*W*A*P*K
    dengan hanya minimal deposit 10.000 kalian bisa memenangkan uang jutaan rupiah
    dapatkan juga bonus rollingan 0.3% dan refferal 10% :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Memasang Wastafel Dengan Baik Dan Benar Oleh Nizar Heru Ferdiansyah

Muhammad Abi Imajudin : (6 Langkah Cuci Tangan)

Cuaca di kota Ungaran oleh Ira Prasetyaningsih